Dunia pesantren kini tidak lagi hanya identik dengan kitab kuning dan metode pembelajaran konvensional, melainkan telah merambah ke dunia kreatif digital melalui program Santri Digital Ar-Rohmah. Di tengah gempuran konten hiburan yang kian masif, para santri di yayasan ini diajarkan untuk mengambil peran sebagai kreator konten yang positif. Fokus utamanya adalah bagaimana mengemas pesan-pesan dakwah dan nilai-nilai keislaman menjadi video pendek yang menarik di platform TikTok, sehingga pesan moral yang disampaikan dapat menjangkau generasi z dengan cara yang lebih relevan dan kekinian.
Penerapan konsep Santri Digital Ar-Rohmah dimulai dengan memberikan pelatihan teknis mengenai produksi video menggunakan perangkat seluler. Siswa belajar tentang teknik pengambilan gambar, pencahayaan yang sederhana namun efektif, hingga proses penyuntingan video yang dinamis. Namun, yang lebih penting dari sekadar teknik adalah pengemasan konten atau storytelling. Dakwah yang disampaikan tidak lagi bersifat menggurui secara kaku, melainkan melalui sketsa komedi ringan, edukasi fikih sehari-hari yang praktis, hingga berbagi motivasi spiritual yang dibalut dengan tren musik yang sedang populer namun tetap dalam koridor syariat.
Melalui program Santri Digital Ar-Rohmah, para santri juga dibekali dengan etika berkomunikasi di media sosial. Mereka diajarkan untuk menghadapi komentar negatif dengan bijak dan tidak terjebak dalam debat kusir yang tidak produktif. Kemampuan literasi digital ini sangat penting agar santri tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi menjadi filter bagi berita bohong atau hoaks yang sering beredar. Dengan menjadi “influencer” bersarung, mereka membawa misi untuk mewarnai jagat digital dengan narasi yang menyejukkan, toleran, dan penuh dengan kedamaian, sesuai dengan citra Islam sebagai rahmatan lil alamin.
Keberhasilan inisiatif Santri Digital Ar-Rohmah terlihat dari meningkatnya antusiasme masyarakat luas terhadap konten-konten yang mereka produksi. Banyak remaja yang merasa terbantu dengan penjelasan singkat para santri mengenai masalah ibadah yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, kegiatan ini juga memberikan bekal keterampilan tambahan bagi santri saat mereka lulus nanti, di mana kemampuan manajemen media sosial sangat dibutuhkan di berbagai sektor pekerjaan modern. Kreativitas ini membuktikan bahwa menjadi religius tidak berarti harus menutup diri dari kemajuan teknologi informasi.