Setiap anak terlahir dengan bakat dan keunikan masing-masing, namun tantangannya adalah bagaimana membantu mereka mengenali potensi diri tersebut dan mengoptimalkannya. Pembentukan karakter memegang peranan vital dalam proses ini, karena karakter yang kuat tidak hanya membentuk kepribadian, tetapi juga menjadi fondasi bagi pengembangan bakat secara optimal. Membantu anak mengenali potensi diri bukanlah tugas instan, melainkan sebuah perjalanan panjang yang melibatkan berbagai aspek.
Pembentukan karakter mencakup penanaman nilai-nilai seperti disiplin, kegigihan, rasa ingin tahu, tanggung jawab, dan kemampuan beradaptasi. Nilai-nilai ini secara langsung mendukung anak untuk berani mencoba hal baru, tidak mudah menyerah saat menghadapi kesulitan, dan memiliki motivasi internal untuk terus belajar dan berkembang. Misalnya, seorang anak yang memiliki karakter gigih akan terus berlatih bermain musik meskipun sering membuat kesalahan, sehingga bakat musiknya akan lebih cepat terasah. Dr. Indah Permata, seorang psikolog anak dari Pusat Studi Perkembangan Anak, pada webinar tanggal 12 Juni 2025, menekankan bahwa “karakter yang kuat adalah ‘pupuk’ bagi bakat. Tanpa pupuk yang baik, benih bakat tidak akan tumbuh maksimal.”
Lingkungan yang mendukung juga sangat penting dalam membantu anak mengenali potensi diri. Ini berarti orang tua dan pendidik harus menciptakan ruang aman bagi anak untuk bereksplorasi, bereksperimen, dan bahkan membuat kesalahan tanpa takut dihakimi. Dorong anak untuk mencoba berbagai kegiatan ekstrakurikuler, hobi, atau pelajaran tambahan. Amati minat dan antusiasme mereka terhadap suatu bidang. Misalnya, jika seorang anak menunjukkan ketertarikan pada robotika sejak usia dini, berikan mereka kesempatan untuk mengikuti klub robotik atau kursus dasar, seperti yang diselenggarakan oleh Komunitas Robotik Nasional setiap Sabtu sore di pusat komunitas. Pengalaman langsung ini bisa menjadi pemicu bagi mereka untuk mengenali potensi diri di bidang STEM (Sains, Teknologi, Engineering, Matematika).
Selain itu, memberikan umpan balik yang konstruktif dan pujian yang tulus juga esensial. Fokus pada usaha dan proses belajar anak, bukan hanya pada hasil akhir. Ketika anak merasa dihargai atas usahanya, mereka akan lebih termotivasi untuk terus mengembangkan bakatnya. Ajarkan mereka untuk belajar dari kegagalan, bukan takut akan kegagalan. Misalnya, jika seorang anak gagal dalam kompetisi melukis, ajaklah mereka merefleksikan apa yang bisa dipelajari dari pengalaman itu, alih-alih hanya berfokus pada kekalahan. Proses pembentukan karakter yang holistik ini pada akhirnya akan membantu anak tidak hanya mengenali potensi diri yang mereka miliki, tetapi juga memiliki mentalitas yang kuat untuk mengoptimalkan bakat tersebut menjadi prestasi yang nyata di masa depan.