Di tengah pesatnya perkembangan Kecerdasan Buatan (AI) yang mampu menyelesaikan tugas kognitif kompleks dengan cepat, fokus pendidikan dan pengasuhan harus bergeser dari sekadar kemampuan intelektual (IQ) menuju karakter non-kognitif. Salah satu karakter krusial yang menentukan kesuksesan jangka panjang adalah grit, yang didefinisikan sebagai kombinasi antara gairah (passion) dan ketekunan (perseverance) untuk mencapai tujuan jangka panjang. Membentuk Grit Sejak Dini menjadi investasi terpenting bagi masa depan generasi, sebab AI dapat meniru kecerdasan, tetapi sulit meniru ketahanan mental dan daya juang manusia. Menurut studi yang diterbitkan oleh Jurnal Pendidikan Psikologi Universitas Indonesia volume 12 edisi 4 tahun 2024, siswa yang memiliki tingkat grit tinggi menunjukkan tingkat putus sekolah 30% lebih rendah dibandingkan mereka yang hanya mengandalkan IQ tinggi.
Membentuk Grit Sejak Dini memerlukan pergeseran paradigma dari pengasuhan yang terlalu melindungi (overparenting) menjadi pengasuhan yang memberdayakan. Anak perlu diberikan kesempatan untuk gagal dan belajar dari kesalahan mereka tanpa intervensi segera dari orang tua. Psikolog pendidikan, Prof. Dr. Bima Sentosa, Sp.KJ, menyarankan orang tua menerapkan aturan “15 Menit Tidak Intervensi” saat anak menghadapi kesulitan dalam tugas sekolah atau tantangan fisik. Ini adalah waktu krusial bagi anak untuk mengembangkan mekanisme koping dan menemukan solusi sendiri.
Langkah praktis dalam Membentuk Grit Sejak Dini adalah menetapkan tujuan yang menantang namun dapat dicapai (stretch goals). Misalnya, seorang anak usia 10 tahun yang ingin menguasai alat musik (ukulele) tidak didorong untuk menjadi ahli dalam semalam, melainkan didorong untuk berlatih selama 20 menit setiap hari selama enam bulan. Proses yang berulang dan jangka panjang inilah yang menanamkan pentingnya konsistensi dan ketekunan. Orang tua atau guru bertindak sebagai coach, bukan sebagai penyelamat. Pada hari Senin, 11 November 2025, Dinas Pendidikan Kota Bandung meluncurkan program percontohan di 50 sekolah dasar yang fokus pada kurikulum berbasis growth mindset dan grit, dengan harapan dapat melihat peningkatan signifikan dalam motivasi belajar siswa pada akhir semester genap 2026.
Era AI menuntut kemampuan manusia untuk beradaptasi, berinovasi, dan tidak mudah menyerah saat menghadapi kemunduran teknologi atau karier. IQ dapat membantu seseorang mendapatkan pekerjaan, tetapi grit yang akan menjaganya tetap relevan dan berhasil melalui perubahan. Oleh karena itu, investasi pada karakter, melalui praktik Membentuk Grit Sejak Dini, adalah jaminan kesuksesan yang lebih andal daripada sekadar skor ujian yang tinggi.