Orang tua dan pendidik seringkali memprioritaskan kecerdasan intelektual (IQ), padahal ada satu aspek lain yang tak kalah penting untuk kesuksesan anak di masa depan: kecerdasan emosional (EQ). Mengembangkan kecerdasan emosional pada anak sejak dini adalah fondasi penting yang akan membantu mereka mengelola perasaan, berinteraksi dengan orang lain, dan menghadapi tantangan hidup dengan lebih baik. Kemampuan ini tidak datang dengan sendirinya; ia harus diajarkan dan dilatih secara konsisten.
Pada hari Sabtu, 20 Oktober 2025, dalam sebuah webinar yang diselenggarakan oleh Asosiasi Psikolog Anak Indonesia (APAI), Dr. Rina Kusuma, seorang psikolog anak, menjelaskan bahwa mengembangkan kecerdasan emosional pada anak dimulai dari hal-hal sederhana. “Orang tua bisa memulai dengan mengajarkan anak mengenali emosinya sendiri. Tanyakan, ‘Apa yang kamu rasakan saat ini?’ atau ‘Mengapa kamu merasa sedih?'” jelasnya. Dengan memberikan nama pada setiap emosi—marah, sedih, bahagia, kecewa—anak akan lebih mudah mengidentifikasi dan mengelolanya. Laporan dari APAI per Agustus 2025 menunjukkan bahwa anak-anak yang memiliki EQ tinggi cenderung lebih mandiri, memiliki empati, dan lebih mudah beradaptasi di lingkungan sosial.
Salah satu cara efektif untuk mengembangkan kecerdasan emosional adalah melalui permainan peran. Ajak anak untuk memainkan skenario di mana mereka harus berinteraksi dengan orang lain, seperti berbagi mainan atau menyelesaikan konflik kecil. Pada tanggal 15 November 2025, sebuah lembaga pendidikan anak usia dini di Jakarta Pusat, TK Ceria, mengadakan “Hari Empati” di mana anak-anak diajarkan untuk memahami perasaan teman-temannya. Hasilnya, guru mencatat penurunan signifikan pada kasus perselisihan antar anak dan peningkatan dalam kerja sama tim. Hal ini membuktikan bahwa pendidikan emosional perlu diintegrasikan ke dalam kurikulum sekolah, bukan hanya di rumah.
Selain itu, orang tua harus menjadi contoh yang baik dalam mengelola emosi mereka sendiri. Anak-anak adalah peniru ulung. Jika mereka melihat orang tua mereka mengatasi stres atau kekecewaan dengan cara yang positif, mereka akan cenderung meniru perilaku tersebut. Pada hari Jumat, 12 September 2025, sebuah survei yang dilakukan oleh Badan Perlindungan Anak dan Remaja (BPAR) menemukan bahwa 7 dari 10 anak yang memiliki masalah dalam mengendalikan emosi berasal dari keluarga yang kurang terbuka dalam berkomunikasi. Oleh karena itu, menciptakan lingkungan yang aman di mana anak merasa nyaman untuk mengungkapkan perasaannya adalah kunci.
Secara keseluruhan, mengembangkan kecerdasan emosional pada anak adalah investasi jangka panjang yang tidak akan pernah sia-sia. Hal ini akan membentuk mereka menjadi individu yang lebih seimbang, bahagia, dan sukses di masa depan, melebihi sekadar nilai akademik. Dengan dukungan penuh dari orang tua dan pendidik, kita bisa membantu menciptakan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional. Ini adalah misi yang harus kita jalankan demi masa depan bangsa yang lebih baik.